Pada awalnya, pilihan pertama saya bukanlah
fakultas hukum. Saya sangat menyukai dunia tulis menulis. Saya juga pernah
menjadi crew di Sumatra Ekspress dan
menulis cerpen untuk salah satu buku terbitan gagas media. Saya suka dunia
jurnalistik dan tulis menulis. Kalau begitu saya salah dong memilih fakultas
hukum? Saya seharusnya memilih jurusan ilmu komunikasi atau sastra Indonesia yang
sesuai dengan hobby saya. Lalu, apa
alasan saya memilih jurusan hukum?
Banyak
pertimbangan saya sehingga saya memilih fakultas hukum. Saya cukup menyukai
berita-berita di media massa apalagi berita yang menyangkut hukum. Ada beberapa
pertanyaan di benak saya ketika saya menonton berita tersebut. Contohnya berita
lumpur lapindo yang muncul secara besar-besaran lalu kemudian hilang tanpa
jejak. Selain itu juga, kasus korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh pejabat
negara yang akhirnya belum jelas. Lalu, yang paling sederhana tetapi yang
paling saya pertanyakan bagaimana bisa pencuri ayam bisa mendapat hukuman
bertahun-tahun sementara koruptor bisa keluar masuk lapas seperti rumah mereka
sendiri? Dimana keadilan? Dimana sila kedua pancasila yang selalu kita ucapkan
dari kita kecil?
Alasan pertama, saya ingin mengubah kondisi hukum di Indonesia. Mungkin cita-cita saya yang satu ini dianggap konyol dan tidak mungkin dapat dilakukan. “Kamu itu perempuan dan sendirian. Mana bisa mengubah hukum di Indonesia yang sudah dari dulu seperti ini?” Well, menurut saya, apabila saya jujur menjalankan tugas saya, maka orang disekitar saya akan terpengaruh lalu menjadi jujur juga. Dan orang disekitar saya itu akan mempengaruhi sekitarnya. Kemudian orang disekitarnya akan mempengaruhi orang lain lagi. Sehingga banyak orang menjujung tinggi kejujuran. Mungkin benar itu sulit, tidak semua orang bisa di pengaruhi dengan mudah, tapi saya percaya itu bisa dilakukan.
Alasan pertama, saya ingin mengubah kondisi hukum di Indonesia. Mungkin cita-cita saya yang satu ini dianggap konyol dan tidak mungkin dapat dilakukan. “Kamu itu perempuan dan sendirian. Mana bisa mengubah hukum di Indonesia yang sudah dari dulu seperti ini?” Well, menurut saya, apabila saya jujur menjalankan tugas saya, maka orang disekitar saya akan terpengaruh lalu menjadi jujur juga. Dan orang disekitar saya itu akan mempengaruhi sekitarnya. Kemudian orang disekitarnya akan mempengaruhi orang lain lagi. Sehingga banyak orang menjujung tinggi kejujuran. Mungkin benar itu sulit, tidak semua orang bisa di pengaruhi dengan mudah, tapi saya percaya itu bisa dilakukan.
Kedua, siapa bilang jurusan hukum tidak bisa jadi penulis? Jurusan hukum itu multi talented. Jadi hakim bisa, jadi pengacara bisa, jadi duta bisa, mau kerja di bank juga bisa. Jadi, walaupun masuk hukum, saya tetap bisa melanjutkan hobby saya. Apapun pekerjaan saya nanti saya tetap bisa jadi penulis. Selain itu di UNSRI juga ada ‘Media Sriwijaya’ dimana saya bisa menyalurkan hobby saya di dunia jurnalistik dan tulis menulis. Tentunya, jika saya bisa masuk disana nanti.
Ketiga, sebenarnya saya belum benar-benar menentukan pekerjaan apa yang akan saya lakukan ketika saya lulus nanti. Tapi saya yakin, semuanya cita-cita saya dapat saya raih apabila saya masuk Fakultas Hukum. Saya ingin menjadi Hakim Tindak Pidana Korupsi. Saya tau itu pekerjaan berat, tapi saya berjanji pada diri saya sendiri untuk akan berprilaku adil. Saya juga ingin menjadi duta konsulat, saya merasa rakyat Indonesia perlu menjaga rakyat Indonesia yang menjadi pekerja di luar negeri. Merekalah penghasil mata uang asing terbanyak, tapi kenapa diperlakukan semena-mena?
Cita-cita saya yang lain, saya ingin bekerja sama dengan teman-teman di Fakultas Hukum UNSRI untuk membuat lembaga bantuan hukum untuk masyarakat yang kurang mengerti hukum agar mereka lebih mengerti hukum. Jelas lembaga ini tidak menghasilkan materi yang berlimpah. Tetapi setidaknya menjadi tabungan di akhirat nanti.
Alasan yang terakhir, karena latar belakang. Kedua orang tua saya adalah pengacara. Jujur, orang tua saya tidak terlalu memaksa saya untuk memasuki fakultas hukum. Malah orang tua saya sempat menyarankan saya untuk masuk jurusan akuntansi yang justru tidak ada hubungannya dengan hukum. Tetapi, saya lebih memilih hukum. Saya sangat suka mendengarkan cerita orang tua saya terhadap kasus yang sedang dihadapinya. Dari kecil, saya suka menunggu orang tua saya pulang bekerja untuk mendengarkan cerita mereka. Bahkan sampai sekarang, saya masih suka mendengarkan cerita mereka. Apa masalahnya? Bagaimana penyelesaiannya? Apa yang mama papa saya lakukan?
Saya pernah meminta mama saya mengajak saya untuk ke pengadilan. Saya ingin melihat suasana persidangan. Mama saya selalu bilang, “nanti nak, pasti ada waktunya sendiri”. Dan sekarang ketika mama saya mengucapkan kalimat itu lagi lagi, saya bisa menjawabnya dengan bangga, “ya ma, dalam beberapa tahun kedepan, setelah ayuk wisuda, ayuk akan duduk di meja pengadilan sebagai Hakim yang Mulia.” :)

